Jumat, 15 April 2016

PENGARUH UMUR SISWA DAN JENIS KELAMIN SISWA TERHADAP NILAI SISWA



1.      Uji Normalitas
  


Dari grafik Normal P-Plot, titik-titik pada grafik mengikuti garis. Sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi ini lulus Uji Normalitas


2.      Uji Multikolinearitas

Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t
Sig.
Collinearity Statistics
B
Std. Error
Beta
Tolerance
VIF
1
(Constant)
70,452
9,733

7,239
,000


Jenis Kelamin Siswa
2,899
1,917
,383
1,512
,149
,689
1,451
Umur Siswa
,344
,509
,171
,675
,509
,689
1,451
a. Dependent Variable: Nilai Siswa

Dari tabel Coefficients, di dapat bahwa,
Ø    Nilai Tolerance untuk variabel Umur Siswa = 0, 689 > 0,1
Ø    Nilai Tolerance untuk variabel Jenis Kelamin Siswa = 0,689 > 0,1
Ø    Nilai VIF untuk kedua variabel bebas = 1,451 < 10
Dengan demikian, model regresi pada penelitian ini lulus Uji Multikolinearitas


3.      Uji Heteroskedastisitas


Dari grafik Scatterplot, titik-titik tidak membentuk suatu pola tertentu dan menyebar di bawah dan di atas angka 0 pada sumbu Y. Sehingga model regresi ini lulus Uji Heteroskedastisitas.




Jumat, 08 April 2016

My First SPSS v.20


Descriptive Statistics


N
Minimum
Maximum
Mean
Std. Deviation
Tinggi Badan Mahasiswa
20
148.00
180.00
164.7750
10.11699
Valid N (listwise)
20








Case Processing Summary


Cases
Included
Excluded
Total
N
Percent
N
Percent
N
Percent
Tinggi Badan Mahasiswa  * Jenis Kelamin Mahasiswa
20
100,0%
0
0,0%
20
100,0%


Report
Tinggi Badan Mahasiswa

Jenis Kelamin Mahasiswa
Mean
N
Std. Deviation
Laki-laki
172.5300
10
6.01739
Perempuan
157.0200
10
6.79899
Total
164.7750
20
10.11699



Created by : Farrisa Haura


Sabtu, 06 Juni 2015

Enterobacter aerogenes si Penginfeksi



Hey guys.. apa kabar semua ? kita bertemu lagi nih di blog ini untuk membahas mengenai Bakteri. Kali ini kita akan membahas mengenai Bakteri nonfotosintetik, salah satunya yaitu Enterobacter aerogenes. Pasti temen-temen yang sudah pernah belajar tentang bakteri gak akan asing sama nama bakteri ini. Ada yang tau dari bakteri famili apakah species ini ? Yaph,.dari famili Enterobacteriaceae. Ternyata Enterobacter aerogenes ini masih satu famili loh dengan Escherichia coli, Salmonella, dan Klabsiealla.

Bakteri Enterobacter aerogenes merupakan bakteri gram negatif yang berbentuk batang dengan panjang 1,2 - 3,0 µm dan lebar 0,6 – 1,0 µm. Sesuai dengan namanya, Enterobacter aerogenes bersifat aerob fakultatif dan kemoorganotrof. Karena bersifat aerob fakultatif maka bakter ini dapat hidup pada pH 3,3 secara aerob dan pH 4 secara anaerob. Bakteri ini juga dapat tumbuh pada suhu 30°-37°C dan menghasilkan koloni dengan tekstur smooth pada media padat (Irham, 2010).

Air, tanah, sampah, dan produk makanan merupakan habitat Enterobacter aerogenes yang dapat kita jumpai. Enterobacter Aerogenes merupakan bakteri nosokomial dan patogen yang dapat menyebabkan infeksi oportunistik. Usus manusia juga merupakan flora normal bagi bakteri ini karena kemampuannya dalam menginfeksi, sehingga dapat menyebabkan infeksi saluran kemih dan sepsis. Namun penginfeksiannya tidak pada manusia yang sehat, melainkan pada pasien yang berada di rumah sakit. Menurut Sanders and Sanders (1997), umumnya infeksi timbul dari tubuh pasien itu sendiri. Namun infeksi silang dapat terjadi melalui tangan petugas kesehatan, ketika menyisipkan perangkat medis dan prosedur bedah. Hal tersebut membuat bakteri ini resisten terhadap beberapa antibiotik seperti β -lactam antibiotics, aminoglycosides dan quinolones. Mekanisme resisten yang digunakan oleh Enterobacter aerogenes yaitu dengan menonaktifkan enzim, perubahan target obat dan perubahan kemampuan obat untuk masuk dan atau menumpuk di sel-sel (Sanders and Sanders, 1997).

Teman-teman pasti bertanya, ko bisa sih Enterobacter aerogenes ini resisten terhadap antibiotik ?? sudah di jelaskan sebelumnya bahwa Enterobacter aerogenes ini merupakan bakteri gram negatif yang berarti memiliki komposisi dinding sel berupa kandungan lipid yang tinggi sehingga lebih tahan terhadap antibiotik. Selain itu, karna bakteri ini sering bertemu dengan beberapa jenis antibiotik membuat bakteri ini menjadi terbiasa dengan adanya antibiotik. Peningkatan resistensi bakteri dapat terjadi juga loh, hal ini disebabkan karena penggunaan antibiotik yang tidak kuat serta kolonisasi bakteri yang menyebabkan terjadi resistensi endogen dari bakteri. Oleh karena itu, beberapa peneliti mencari cara untuk mengendalikan infeksi terhadap bakteri Enterobacter aerogenes di rumah sakit. Pengendalian infeksi di rumah sakit dapat di lakukan dengan berbagai strategi. Skrining dan surveilens infeksi di rumah sakit akan memberi gambaran mengenai keadaan infeksi nosokomial serta dapat menjadi dasar penyusunan panduan penggunaan antibiotik bagi rumah sakit. Adanya panduan penggunaan antibiotik akan membantu dalam pembatasan penggunaan antibiotik. Pembatasan penggunaan antibiotik merupakan salah satu strategi yang efektif dalam mencegah dan menurunkan resistensi bakteri terhadap antibiotik. Pencegahan infeksi lainnya dapat juga di lakukan dengan melakukan sterilisasi terhadap peralatan medis yang akan di pakai dan mendisiplinkan tenaga kesehatan yang berhubungan langsung dengan pasien dengan cara mencuci tangan serta selalu menjaga kondisi yang aseptik (Widya, 2009).

Naah.. dengan membaca artikel ini kita bisa tau bahwa Enterobacter aerogenes ini benar-benar si penginfeksi yang sangat resisten. Namun dengan adanya bakteri ini membuat kita slalu berupaya memperhatikan pemberian antibiotik dan menjaga keadaan aseptik di rumah sakit. Semoga bermanfaat yaa..terima kasih telah berkunjung.. ^_^


Daftar Pustaka

Dr. Rao. 2011. Enterobacter an emerging nosocomial pathogen. http://www.slideshare.net/doctorrao/enterobacter-an-emerging-nosocomial-infection. Diakses pada tanggal 06 Juni 2015 pukul 13.45 WIB.

Irhan Febijanto. 2010. Pengembangan Produksi Biohidrogen dari Kelapa Sawit atau Limbah sebagai Bahan Bakar Fuel Cell untuk Pembangkit Listrik Daerah Terpencil .http://km.ristek.go.id/assets/files/BPPT/Pengembangan%20Prod.%20Biohidrogen%20-%20D%20-%20S/All.pdf. Diakses pada tanggal 06 Juni 2015 pukul 12.30 WIB

Sanders W.E. Jr. And Sanders C.C. (1997) Enterobacter spp: pathogens poised to flourish at the turn of the century. Clin Microbiol Rev. 10(2): 220-241.

Widya Anandita. 2009. Pola Resistensi Bakteri. http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/123044-S09074fk-Polaresistensi-Analisis.pdf. Diakses pada tanggal 06 Juni 2015 pukul 18.10 WIB

Sumber gambar :

Jumat, 24 April 2015

Mikroba dan Saluran Pembuangan Air

Mikroba dan Saluran Pembuangan Air

Pada artikel kali ini, kita akan membahas ,mengenai mikroba dengan saluran pembuangan air. Saluran pembuangan air sangat bermacam-macam diantaranya yaitu saluran pembuangan air limbah, saluran pembuangan air pada rumah tangga, hotel dan lain sebagainya. Pastinya pada saluran pembuangan air tersebut terdapat mikroba-mikroba yang hidup. Ada pula mikroba yang digunakan untuk mengatasi saluram pembuangan air limbah atau saluran pembuangan air yang mapet karena partikel-partikel yang menyumbatnya.
A.    Mikroba
Dalam air baik yang kita anggap jernih, sampai terhadap air yang keadaannya sudah kotor atau tercemar, di dalamnya akan terkandung sejumlah kehidupan, yaitu misalnya yang berasal dari sumur biasa, sumur pompa, sumber mata-air dan sebagai-nya, di dalamnya terdiri dari bakteri, yaitu :
1.      Kelompok bakteri besi (misalnya Crenothrix dan Sphaerotilus) yang mampu mengoksidasi senyawa ferro menjadi ferri. Gallionella merupakan bakteri yang mampu mengoksidasi ion ferro Fe+2 ke ion ferri Fe+2 ,Gallionella umumnya berdeposit bersama ion besi, mangan yang mengandung ion klorida, bakteri Gallionella sering ditemukan pada sambungan las, beberapa bakteri  pengoksidasi besi lain yang dikenal antara lain sphaerotilus, crenothrix dan lepthotrix. Bakteri kemosintesis Thiobacillus dan Ferrobacillus memiliki sistem enzim yang dapat mentransfer elektron dari ion ferro ke oksigen, menghasilkan ion ferri, air, dan energi bebas untuk sintesis bahan organik dari karbondioksida. Bakteri kemosintesis bekerja optimum pada pH rendah (sekitar 5). Akibat kehadirannya, air sering berubah warna kalau disimpan lama yaitu warna kehitam-hitaman, kecoklat-coklatan, dan sebagainya.
2.      Kelompok bakteri belerang (antara lain Chromatium dan Thiobacillus yang mampu mereduksi senyawa sulfat menjadi H2S. Bakteri pereduksi sulfat memiliki ketahanan baik pada tempratur sampai dengan 80°C, bakteri ini bekerja baik pada ph 5-9. Dalam pipa, proses perubahan secara biologis terjadi selama transportasi air buangan. Perubahan ini memerlukan O2. Apabila kandungan O2 tidak cukup dari aerasi natural udara dalam pipa, terjadi reduksi sulfat dan terbentuk ion sulfida. S akan berubah menjadi H2S pada pH tertentu dan sebagian lepas ke udara di atas air buangan. Bila pipa berventilasi baik dan dindingnya kering, hal ini tidak akan menimbulkan masalah. Bila terjadi hal sebaliknya, keseimbangan berkumpul pada dinding bagian atas pipa. H2S larut dalam air sesuai dengan tekanan parsial udara dalam pipa dan bakteri akan mengoksidasi H2S menjadi H2SO4, yang dapat merusak beton (dikenal dengan ”crown” korosi) (Yudi, 2015). Akibatnya kalau air disimpan lama akan tercium bau busuk seperti bau telur busuk.
3.      Kelompok mikroalge (misalnya yang termasuk mikroalga hijau, biru dan kersik), sehingga kalau air disimpan lama di dalamnya akan nampak jasad- jasad yang berwarna hijau, biru atau pun kekuning-kuningan, tergantung kepada dominasi jasad-jasad tersebut serta lingkungan yang mempengaruhinya.
Mikroorganisme yang paling umum digunakan sebagai petunjuk atau indikator adanya pencemaran  dalam air adalah Escherichi coli (E. coli), serta bakteri dari kelompok koliform.
Mikroorganisme dari kelompok koliform secara keseluruhan tidak umum hidup atau terdapat di dalam air, sehingga keberadaanya dalam air dapat dianggap sebagai petunjuk terjadinya pencemaran kotoran dalam arti luas, baik dari kotoran hewan maupun manusia. Bakteri koliform meliputi semua bakteri berbentuk batang, gram negatif, tidak membentuk spora, dan dapat memfermentasi laktosa dengan memproduksi gas dan asam pada suhu 370°C dalam waktu kurang dari 48 jam. Adapun bakteri E. coli selain memiliki karakteristik seperti bakteri koliform pada umumnya, juga dapat menghasilkan senyawa indole di dalam air pepton yang mengandung asam amino triptofan, serta tidak dapat menggunakan natrium sitrat sebagai satu – satunya sumber karbon (Purnawijayanti, 2001). Escherichia coli adalah salah satu bakteri yang tergolong koliform dan hidup secara normal di dalam kotoran manusia maupun hewan, oleh karena itu disebut juga koliform fekal. Bakteri koliform lainnya berasal dari hewan dan tanaman mati dan disebut kolifrom non fekal, misalnya Entrobacter aerogenes, E. coli adalah grup koliform yang mempunyai sifat dapat menfermentasi lactose dan memproduksi asam dan gas pada suhu 370°C maupun suhu 44,5 + 0,50°C dalam waktu jam 48. Sifat ini digunakan untuk membedaka E. coli dari Enterobacter,  karena Enterobacter tidak dapat membentuk gas dari lactose pada suhu 44,5 + 0,50°C. E. coli adalah bakteri yang termasuk dalam family Enterobacteriaceae, bersifat gram negative, berbentuk batang dan tidak membentuk spora (Fardiaz, 1992). bakteri gram negative yang tahan hidup dalam media yag kekurangan zat gizi. Susunan dinding sel bakteri gram negative memiliki struktur dinding sel yang lebih kompleks daripada sel bakteri gram positif. Bakteri gram negative mengandung sejumlah besar lipoprotein, lipopolisakarida, dan lemak. Adanya lapisan-lapisan tersebut mempengaruhi aktivitas kerja dari zat antibakteri.

B.     Nutrisi
Nutrisi merupakan proses dimana senyawa kimiawi (nutrisi) yang diperoleh dari lingkungan dan digunakan oleh organisme. Nutrisi bagi pertumbuhan bakteri, seperti halnya nutrisi untuk organisme lain mempunyai kebutuhan akan sumber nutrisi, yaitu:
1.              Bakteri membutuhkan sumber energi yang berasal dari energi cahaya (fototrof) dan senyawa kimia (kemotrof).
2.              Bakteri membutuhkan sumber karbon berupa karbon anorganik (karbon dioksida) dan karbon organik (seperti karbohidrat). Bakteri heterotrofik (organotrof) membutuhkan karbon organik untuk pertumbuhannya. Dalam praktek laboratorium, glukosa secara luas digunakan sebagai sumber karbon organik, tetapi berbagai senyawa lain juga dapat digunakan secara khusus atau sumber karbon tertentu oleh bakteri yang berbeda.

3.              Bakteri membutuhkan sumber nitrogen dalam bentukm garam nitrogen anorganik (seperti kalium nitrat) dan nitrogen organik (berupa protein dan asam amino).
4.              Bakteri membutuhkan beberapa unsur logam (seperti kalium, natrium, magnesium, besi, tembaga dsb).
5.              Bakteri membutuhkan air untuk fungsi – fungsi metabolik dan pertumbuhannya.
Namun pada umumnya, bakteri atau mikroba membutuhkan nutrisi yang mengandung suatu atom atau molekul. Nutrisi pada mikroba dibagi menjadi Inorganic nutrients yaitu atom atau molekul yang terdiri atas gabungan atom selain karbon dan hidrogen seperti Logam dan garamnya (magnesium sulfate, ferric nitrate, sodium phosphate), gases (oxygen, carbon dioxide) dan Organic nutriens yaitu terdiri atas atom karbon dan hidrogen sebagai hasil dari benda hidup seperti methane (CH4), karbohidrat, lipid, protein, dan asam nukleat.

C.     Pertumbuhan Mikroba
Pertumbuhan mikroba pada umumnya ditandai dengan empat fase yang khas, yakni periode awal yang tampaknya tanpa pertumbuhan (fase lamban atau lag phase) diikuti leh suatu periode pertumbuhan yang cepat (fase log), kemudian mendatar (fase statis atau stationary phase), dan akhirnya diikuti oleh suau penurunan polpulasi sel-sel hidup (fase kematian atau penurunan). Di antara setiap fase ini ada suatu periode peralihan yang menunjukkan lamanya waktu sebelum semua sel memasuki fase yang baru .

D.    Peranannya
Bakteri-bakteri yang sudah disebutkan sebelumnya yang mampu mengoksidasi senyawa ferro menjadi ferri (khusus pada bakteri kelompok besi). Sehingga mampu membuat air sering berubah warna kalau disimpan lama yaitu warna kehitam-hitaman, kecoklat-coklatan, dan sebagainya. Perubahan warna juga dapat disebabkan oleh kelompok mikroalge jika air disimpan lama. Sedangkan Kelompok bakteri belerang  mampu mereduksi senyawa sulfat menjadi H2S yang membuat air tercium bau busuk seperti bau telur busuk kalau tersimpan dalam waktu yang cukup lama. Adapun peranan E.colli dalam air yang tercemar yaitu untuk penguraian limbah-limbah dan sebagai bioindikator adanya pencemaran pada air.

E.     Pengontrol
Bakteri-bakteri yang disebutkan dapat dikontrol pertumbuhannya dengan menurunkan pH karena bakteri pereduksi sulfur hanya bisa tumbuh pada pH 5-9. Selain itu bisa juga dengan mengubah suhu menjadi lebih rendah (bakteri ini hidup dalam suhu 80°C. Modifikasi material yang digunakan, perubahan sistem operasi, treatment kimia juga dapat mencegah terjadinya korosi yg di bentuk bakteri.

F.      Hubungannya
Banyak sekali masalah gangguan dalam saluran pembuangan air diantaranya saluran yang tersumbat, saluran air yang tercemar dengan limbah yang berasal dari sumber yang berbeda. Kehadiran kelompok bakteri dan mikroalga di dalam air, dapat menyebabkan terjadinya penurunan turbiditas dan hambatan aliran pada saluran, karena kelompok bakteri besi dan belerang dapat membentuk serat atau lendir pada saluran. Akibat lainnya adalah terjadinya proses korosi (pengkaratan) terhadap benda-benda logam yang berada di dalamnya, menjadi bau, berubah warna, dan sebagainya.
Saluran pembuangan sangat identik dengan zat-zat yang sudah tidak terpakai lagi sehingga terdapat berbagai mikroba yang membuat air dalam saluran pembuangan air tersumbat atau tercemar. Masalah dapat di atasi dengan adanya mikroba pengurai atau mikroba yang berfungsi sebagai bioindikator seperti Escherichia colli. Dengan adanya mikroba tersebut, saluran pembuangan air menjadi tidak tersumbat karena mikroba merugikan atau partikel yang menyumbat saluran dapat diuraikan oleh mikroba tersebut.

Daftar Pustaka
Fardiaz, S. 1992. Polusi Air dan Udara. Kanisius. Yogyakarta.
Purnawijayanti, H. 2001. Sanitasi, Higiene, dan Keselamatan Kerja dalam Pengolahan Makanan. Kanisius Yogyakarta.
Anugraha TP juni 2. Peran Mikroba dalam Lingkungan. http://www.scribd.com/doc/31265477/Peran-Mikroba-Dalam-Lingkungan#scribd. 2010. Diakses pada tanggal 23 April 2015 pukul 03.20 WIB
Salva Ende. Ketika Selokan Menjadi Tempat Sampah. https://www.academia.edu/9633557/SALVA. 2012. Diakses pada tanggal 23 April 2015 pukul 02.00 WIB
Yudi. Bakteri Penyebab Bio-korosi. http://www.metalurgi.lipi.go.id/bakteri-penyebab-bio-korosi/ . 2015. Diakses pada tanggal 24 April 2015 pukul 19.52 WIB